Senin, 30 Juli 2012

Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan

Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan. Sebuah judul buku yang ditulis oleh Almarhum (yang dirahmati Allah) KH. Shiddiq Aminullah, Drs., MBA. Nama yang lebih dikenal dengan Ustadz Shiddiq Amin ini adalah Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) sekaligus Pimpinan Pesantren Persis Benda Tasikmalaya. Beliau wafat pada  2011. Dalam beberapa kesempatan tabligh atau ceramahnya di Bandung, beliau menggabungkan kapasitasnya sebagai ulama yang menguasai keilmuan Islam tradisional (al-ulum as-syar'iyah), dan kecendekiawanan dengan penguasaannya terhadap realitas peradaban kontemporer. 

Karya tulisnya menggambarkan kepiawaiannya dalam mengolah kata komunikasi secara kritis pada jamaahnya dan umat Islam secara umum. Penulis meskipun tidak termasuk ke dalam anggota jam'iyah Persis, tapi dengan rendah hati menjadi menjadi muridnya yang setia. Setiap kesempatan tabligh beliau, baik di Masjid dan Pesantren Persis Pajagalan Bandung, maupun di Pajagalan Banjaran sebisa mungkin selalu hadir. Meskipun berjam-jam beliau ceramah, tetapi yang hadir tetap tidak bergeming setia mendengarkannya.

Berbeda dengan karya tulis yang lainnya (yang lebih serius), karya berjudul Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan ini bersifat sastra artistik meskipun kentara sekali ilmiahnya. Dari lembaran-lembaranya terdapat puisi-puisi indah dan gambar atau sketsa yang mencermin realitas jiwa manusia. Yang menarik tentunya bahasannya tentang jiwa. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa jiwa tanpa topeng kepalsuan merupakan usaha untuk meretas jalan menjadi diri sendiri.

Menurut Ustadz Shiddiq, bukunya diawali dengan pertanyaan 'Siapa Diriku?" Kemudian dilanjutkan dengan sifat-sifat manusia dan lingkungan yang mempengaruhinya.  Setelah itu, problematika susahnya menjadi diri sendiri.

Yuk, kita selami kedalaman buku ini satu persatu (atau yang pentingnya saja alias mengambil mutiaranya saja).

Beliau menulis:

Esensi dari makhluk bernama manusia adalah jiwa. Dan jasad hanyalah materi yang membungkus nurani. Namun, kita lebih sering melihat diri dan makhluk-makhluk lainnya di sekeliling kita sebagai suatu materi, hingga kita pun terkungkung oleh segala bentuk materialisme. (h. xi)

Dalam perjalanan memahami hakikat diri, kita mesti memahami beberapa faktor yang memiliki andil dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Manusia dilahirkan dengan membawa berbagai potensi positif dan potensi negatif. Dalam perjalanannya, bisa jadi potensi positif itu dapat terus berkembang dan menekan potensi negatif. Namun, bisa jadi pula potensi negatif yang justru berkembang pesat dan menekan potensi positif. Potensi-potensi yang diberikan pada manusia di antaranya rasio/pemikiran, akal, hati, dan nafsu. (h.25)--ini maksudnya mungkin potensi potensi positif.

Terdapat perbedaan mendasar antara rasio dan akal. Bila rasio adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang tampak oleh indra, potensi akal jauh lebih dari itu. Akal terdiri dari unsur rasio dan hati. Karenanya, tak heran bila banyak di antara manusia yang betul-betul dapat memanfaatkan potensi rasionya dengan sangat baik, namun tidak yakin akan kebesaran Allah. Itu karena hati mereka tidak berfungsi, terkotori nafsu amarah. Padahal, potensi akan akan semakin baik manakala unsur hati/rasa senantiasa berada dalam garis tauhid/keimanan kepada Allah. (h.29)

Selain berbagai potensi di atas, manusia pun memiliki beberapa sifat dasar yang negatif, di antaranya bersifat keluh kesah (Q.S Al-Ma'arif[70]: 20), tergesa-gesa (Q.S Al-Isra[17]: 11), suka membantah (Q.S Al-Kahfi[18]: 54), melampaui batas (Q.S Yunus[10]: 12), kikir (Q.S Al-Ma'arij[70]: 19, ingkar/tak mau bersyukur (Q.S Al-'Adiyat[100]: 6), dan melihat dirinya serba cukup (Q.S Al-'Alaq[96]: 7). (h. 31)

Menjadi  diri sendiri pada hakikatnya adalah jujur pada nurani dan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan, mengamalkan, dan mewujudkan sifat-sifat Tuhan. Sayid Quthb mengungkapkan hal ini dengan kalimat yang begitu indah, "Manusia, bukanlah boneka atau wayang tanpa nyawa yang gerak dan perbuatannya sepenuhnya ditentukan oleh orang yang memainkannya. Juga bukan bulu yang melayang-layang di udara yang arahnya tergantung  ke mana angin bertiup. Tetapi mereka adalah aktor-aktor yang harus memainkan peran yang telah ditentukan kepada mereka oleh Sang Pembuat skenario dan Perancang lakon. Tugas mereka adalah memainkan peran mereka sebaik-baiknya, untuk itu mereka diberi akal, kehendak, dan perlengkapan, guna mengembangkan peranan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika mereka berhasil memainkan peran mereka dengan baik, maka mereka akan diberi imbalan, tetapi jika gagal, mereka akan dihukum." (h.75-76)


Mengenai lingkungan dan kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa setiap tindakan dapat menghasilkan suatu akibat pada jiwa, jika hal dilakukan secara berulang-ulang. Sebagaimana tindakan fisik mempengaruhi jiwa, begitu juga jiwa mempengaruhi badan. Ini dikenal sebagai "teori interaksi tradisional' suatu tindakan menciptakan suatu akibat pada jiwa; akibat ini menyebabkan badan mengulangi tindakan yang sama yang juga menghasilkan suatu pengarus atas jiwa. Pengaruh yang dihasilkan tersebut ditambahkan kepada pengaruh yang dihasilkan sebelumnya. (h. 33)



Itulah sedikit mutiara yang penulis dapatkan setelah menyelam di kedalaman buku "Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan" ini. Selamat mencari mutiara yang lainnya buku ini.














































































































































































































































































































































































































































































































Tidak ada komentar:

Posting Komentar