Senin, 03 September 2012

 
Potensi Positif Negatif Jiwa

Manusia sebagaimana dijelaskan pada artikel sebelumnya memiliki dua macam potensi. Potensi positif dan negatif. Apa saja potensi positif dan negatif jiwa manusia itu? Mengenai potensi positif, Afif Muhammad dalam Pelangi Islam (Bandung, Khazanah Intelektual, 2005: 59-62) relatif memberikan contoh yang lebih banyak dibanding penulis lainnya. Potensi positif manusia itu adalah:
  1. Manusia mempunyai fitrah beragama (QS Ar-Rum:30)
  2. Manusia mempunyai kemampuan untuk memahami hukum kausalitas
  3. Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan (QS Al-Baqarah:31)
  4. Mampu menyusun argumen secara logis (QS Al-Baqarah: 65-68)
  5. Mampu mengambil pelajaran dari pengalaman (QS Al-Araf: 164-169)
  6. Mampu berpikir kritis terhadap gagasan yang disampaikan orang lain yang tidak mempunyai pijakan kebenaran (QS Al-Maidah: 103)
  7. Kemampuan menguasai informasi (QS Ar-Rahman: 4)
Sementara potensi negatif yang ada pada jiwa manusia, Nurwadjah Ahmad (Bandung, Marja, 2012 : 90-91) dalam Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan menyebut ada 12 potensi negatif manusia, yaitu :
  1. Sifat tergesa-gesa (QS Bani Israil: 11)
  2. Bertindak bodoh dan mempersulit diri (QS Al-Ahzab: 72)
  3. Labil dan tidak bertahan (QS Al-Ma'arij: 19)
  4. Keluh kesah (QS Al-Ma'arif: 20)
  5. Kikir terhadap miliknya dan cenderung kurang bersyukur (QS Al-Ma'arij: 21)
  6. Suka berdebat dan membangkang (QS Al-Kahfi: 54)
  7. Mudah melupakan jasa baik pihak lain (QS Yunus: 12)
  8. Sulit berterima kasih secara tulus (QS Al-Adiyat: 6)
  9. Bertindak melampaui batas (QS Al-Alaq: 6)
  10. Mudah putus asa dan cenderung menutup diri (QS Hud: 9)
  11. Senang kepada harta (QS At-Takatsur: 1-2)
  12. Takut pada ancaman dan kematian (QS An-Nisa: 78)

Jika melihat kedua macam potensi ini, nampak potensi negatif lebih banyak dibandingkan dengan potensi positif. Mengapa demikian? Apakah potensi-potensi positif manusia belum terungkap semuanya ataukah memang kecenderungan negatif manusia lebih besar dibandingkan dengan potensi positifnya?  Pertanyaan2 ini jawaban tidak mudah, karena membutuhkan penelusuran lebih jauh terhadap Al-Quran, sebagai kitab suci ALlah yang membicarakan manusia. Tapi (mengambil simpulan cepatnya) jika potensi negatif lebih banyak, berarti usaha-usaha untuk menahan, menekan, menjinakkan potensi negatif butuh usaha ekstra.

Solusi apa yang ditawarkan Al-Quran, dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi-potensi negatif yang banyak ini? Selain Al-Quran dan As-Sunnah, sumber apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif manusia?

Berkaitan dengan solusi Al-Quran dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi negatif ini membutuhkan kolom tersendiri, tapi untuk yang kedua, sumber lain apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif ini, maka kita dapat menyebutkan sebagai berikut.

Selain Al-Quran dan As-Sunnah, terdapat beberapa sumber yang bisa dimanfaatkan untuk menterapi jiwa negatif. Pertama adalah mereka yang berinteraksi secara langsung dengan kedua sumber tersebut, yaitu para shahabat Nabi dan masyarakat dimana Al-Quran pertama kali turun kepada mereka, hidup bersama mereka, dan memberikan terapi-terapinya melalui lisan Nabi Muhammad Saw dan perbuatan yang beliau lakukan. Ucapan-ucapan dan perbuatan sahabat nabi ini memberikan contoh teladan bagaimana mereka membersihkan jiwanya ketika potensi negatif itu menimpa mereka.

Kedua. Mereka yang berinteraksi dengan kehidupan manusia dengan segala pengalaman yang dibawanya. Pengalaman manusia sejak manusia diciptakan sampai sekarang sebenarnya memberikan pengetahuan berharga bagaimana jiwa-jiwa itu berinteraksi dan memberi pengaruh, positif maupun negatif. Semua peradaban tidak hanya Islam memberikan pengalaman dan pengetahuannya dalam terapi-terapi kejiwaan.

Ketiga. Ilmu pengetahuan modern.

Senin, 30 Juli 2012

Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan

Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan. Sebuah judul buku yang ditulis oleh Almarhum (yang dirahmati Allah) KH. Shiddiq Aminullah, Drs., MBA. Nama yang lebih dikenal dengan Ustadz Shiddiq Amin ini adalah Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis) sekaligus Pimpinan Pesantren Persis Benda Tasikmalaya. Beliau wafat pada  2011. Dalam beberapa kesempatan tabligh atau ceramahnya di Bandung, beliau menggabungkan kapasitasnya sebagai ulama yang menguasai keilmuan Islam tradisional (al-ulum as-syar'iyah), dan kecendekiawanan dengan penguasaannya terhadap realitas peradaban kontemporer. 

Karya tulisnya menggambarkan kepiawaiannya dalam mengolah kata komunikasi secara kritis pada jamaahnya dan umat Islam secara umum. Penulis meskipun tidak termasuk ke dalam anggota jam'iyah Persis, tapi dengan rendah hati menjadi menjadi muridnya yang setia. Setiap kesempatan tabligh beliau, baik di Masjid dan Pesantren Persis Pajagalan Bandung, maupun di Pajagalan Banjaran sebisa mungkin selalu hadir. Meskipun berjam-jam beliau ceramah, tetapi yang hadir tetap tidak bergeming setia mendengarkannya.

Berbeda dengan karya tulis yang lainnya (yang lebih serius), karya berjudul Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan ini bersifat sastra artistik meskipun kentara sekali ilmiahnya. Dari lembaran-lembaranya terdapat puisi-puisi indah dan gambar atau sketsa yang mencermin realitas jiwa manusia. Yang menarik tentunya bahasannya tentang jiwa. Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa jiwa tanpa topeng kepalsuan merupakan usaha untuk meretas jalan menjadi diri sendiri.

Menurut Ustadz Shiddiq, bukunya diawali dengan pertanyaan 'Siapa Diriku?" Kemudian dilanjutkan dengan sifat-sifat manusia dan lingkungan yang mempengaruhinya.  Setelah itu, problematika susahnya menjadi diri sendiri.

Yuk, kita selami kedalaman buku ini satu persatu (atau yang pentingnya saja alias mengambil mutiaranya saja).

Beliau menulis:

Esensi dari makhluk bernama manusia adalah jiwa. Dan jasad hanyalah materi yang membungkus nurani. Namun, kita lebih sering melihat diri dan makhluk-makhluk lainnya di sekeliling kita sebagai suatu materi, hingga kita pun terkungkung oleh segala bentuk materialisme. (h. xi)

Dalam perjalanan memahami hakikat diri, kita mesti memahami beberapa faktor yang memiliki andil dalam membentuk kepribadian seorang manusia. Manusia dilahirkan dengan membawa berbagai potensi positif dan potensi negatif. Dalam perjalanannya, bisa jadi potensi positif itu dapat terus berkembang dan menekan potensi negatif. Namun, bisa jadi pula potensi negatif yang justru berkembang pesat dan menekan potensi positif. Potensi-potensi yang diberikan pada manusia di antaranya rasio/pemikiran, akal, hati, dan nafsu. (h.25)--ini maksudnya mungkin potensi potensi positif.

Terdapat perbedaan mendasar antara rasio dan akal. Bila rasio adalah kemampuan untuk memikirkan sesuatu yang tampak oleh indra, potensi akal jauh lebih dari itu. Akal terdiri dari unsur rasio dan hati. Karenanya, tak heran bila banyak di antara manusia yang betul-betul dapat memanfaatkan potensi rasionya dengan sangat baik, namun tidak yakin akan kebesaran Allah. Itu karena hati mereka tidak berfungsi, terkotori nafsu amarah. Padahal, potensi akan akan semakin baik manakala unsur hati/rasa senantiasa berada dalam garis tauhid/keimanan kepada Allah. (h.29)

Selain berbagai potensi di atas, manusia pun memiliki beberapa sifat dasar yang negatif, di antaranya bersifat keluh kesah (Q.S Al-Ma'arif[70]: 20), tergesa-gesa (Q.S Al-Isra[17]: 11), suka membantah (Q.S Al-Kahfi[18]: 54), melampaui batas (Q.S Yunus[10]: 12), kikir (Q.S Al-Ma'arij[70]: 19, ingkar/tak mau bersyukur (Q.S Al-'Adiyat[100]: 6), dan melihat dirinya serba cukup (Q.S Al-'Alaq[96]: 7). (h. 31)

Menjadi  diri sendiri pada hakikatnya adalah jujur pada nurani dan memiliki kebebasan untuk mengekspresikan, mengamalkan, dan mewujudkan sifat-sifat Tuhan. Sayid Quthb mengungkapkan hal ini dengan kalimat yang begitu indah, "Manusia, bukanlah boneka atau wayang tanpa nyawa yang gerak dan perbuatannya sepenuhnya ditentukan oleh orang yang memainkannya. Juga bukan bulu yang melayang-layang di udara yang arahnya tergantung  ke mana angin bertiup. Tetapi mereka adalah aktor-aktor yang harus memainkan peran yang telah ditentukan kepada mereka oleh Sang Pembuat skenario dan Perancang lakon. Tugas mereka adalah memainkan peran mereka sebaik-baiknya, untuk itu mereka diberi akal, kehendak, dan perlengkapan, guna mengembangkan peranan mereka dengan sebaik-baiknya. Jika mereka berhasil memainkan peran mereka dengan baik, maka mereka akan diberi imbalan, tetapi jika gagal, mereka akan dihukum." (h.75-76)


Mengenai lingkungan dan kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang ini, Al-Ghazali mengatakan bahwa setiap tindakan dapat menghasilkan suatu akibat pada jiwa, jika hal dilakukan secara berulang-ulang. Sebagaimana tindakan fisik mempengaruhi jiwa, begitu juga jiwa mempengaruhi badan. Ini dikenal sebagai "teori interaksi tradisional' suatu tindakan menciptakan suatu akibat pada jiwa; akibat ini menyebabkan badan mengulangi tindakan yang sama yang juga menghasilkan suatu pengarus atas jiwa. Pengaruh yang dihasilkan tersebut ditambahkan kepada pengaruh yang dihasilkan sebelumnya. (h. 33)



Itulah sedikit mutiara yang penulis dapatkan setelah menyelam di kedalaman buku "Jiwa Tanpa Topeng Kepalsuan" ini. Selamat mencari mutiara yang lainnya buku ini.














































































































































































































































































































































































































































































































Rabu, 06 Juni 2012

Sepuluh Jiwa Tercela--Binatang

Sepuluh jiwa atau nafsu tercela ini merupakan pembagian nafsu yang terdapat dalam buku Seri III Buku Pintar Islam Seputar Sejarah dan Muammalah, karya M. Natsir Arsyad (1993: 149). Menarik bahasannya, karena selain menyebutkan delapan tingkatan nafsu yang ditempuh manusia, penulis juga menyebutkan sepuluh nafsu yang mendekam dalam diri manusia, sehingga sekuat mungkin harus dijinakkan dan (kalau perlu) digilas. Di sini , kita melihat apa saja sepuluh nafsu tersebut yang ada dalam diri manusia.

Sementara nafsu yang pertama (delapan tingkatan) selain tiga yang sudah dibahas sebelumnya ditambah nafsu mulhamah (jiwa yang menerima ilham berupa ilmu pengetahuan), nafsu musawwalah (jiwa yang bebas melakukan apa yang dimauinya tanpa peduli nilai aktivitasnya), nafsu radhiyah (jiwa yang menginsafi apa yag diterimanya dan menyatakan bersyukur terhadap ridha Allah), nafsu mardhiyah (jiwa yang senantiasa pasrah akan ridha Allah), dan nafsu kamilah (jiwa yang telah memiliki kesempurnaan, baik kulit maupun isi, lahir bathin, luar dalam).

Kesepuluh nafsu itu adalah :
  1. Nafsu kalbiyah : nafsu yang memiliki sifat anjing, yang perwujudannya antara lain suka memonopoli sendiri.
  2. Nafsu himariyah : nafsu yang memiliki jiwa keledai, yang pandai memikul namun tidak mengerti secuil pun apa yang dipikulnya. Dengan kata lain ia tidak memahami masalah.
  3. Nafsu sabui'yah : nafsu yang memiliki jiwa serigala (suka-suka menyakiti atau menganiaya orang lain  dengan cara apa pun).
  4. Nafsu fa'riyah : nafsu yang memiliki nyali tikus, sebangsa merusak, menilep, atau semacamnya.
  5. Nafsu dzatis suhumi wa hamati wal hayati wal aqrabi, yaitu jiwa binatang penyengat berbisa sebagai ular dan kalajengking (senang menyindir-nyindir orang, menyakiti hati, dengki, dendam kepada orang lain).
  6. Nafsu khinziriyah : jiwa bersifat babi, yakni suka kepada yang kotor, busuk, apek dan yang menjijikkan.
  7. Nafsu thusiyah  : nafsu merak, antara lain suka menyombongkan diri, sok aksi, berlagak-lagu, busung dada, dan sebagainya.
  8. Nafsu jamaliyah : nafsu unta (tak punya rasa santun, kasih sayang, tenggang rasa sosial, tak peduli kesusahan orang, yang penting dirinya selamat dan untung.
  9. Nafsu dubbiyah : jiwa beruang. Biarpun kuat dan gagah, tapi sontok akal alias dongok (bego).
  10. Nafsu qirdiyah : jiwa beruk alias munyuk atau monyet (diberi ia mengejek, tak dikasih ia mencibir, sinis, dan suka melecehkan atau memandang enteng).

Kesepuluh nafsu ini, meskipun bahasa yang digunakan oleh penulis kurang pas dan kurang panjang lebar, tapi setidaknya memberikan gambaran mengenai jiwa kita yang ternyata ketika tidak sesuai dengan syariat berubah menjadi binatang. Jiwa manusia dan jiwa binatang. Mana yang kita pilih? 

Ternyata di bumi ini banyak mereka yang memiiliki jiwa binatang. Sebenarnya binatang-binatang di kebun binatang tidak perlu ditakuti oleh kita, yang harus ditakuti adalah binatang-binatang yang menjelma dalam jiwa diri kita. Ngeri tapi itulah realitasnya. Manusia adalah hewan yang berakal, the animal that reason atau hayawanun nathiq, kata Aristoteles. Kalau setuju dengan definisi manusia versi Aristo ini, maka manusia minus akal adalah binatang. Na'udzu billahi min dzalika.

Senin, 28 Mei 2012

Siapakah Anda ?

Sebuah pertanyaan yang mengusik jiwa atau diri kita. Pertanyaan ini ternyata tidak sederhana. Kalaupun kita mampu dengan mudah menjawabnya, apakah benar jawaban kita? Belum tentu. Ternyata kesalahan dalam memberikan jawaban ini berdampak serius. Jawabannya berdampak kepada visi, misi dan aksi hidup di dunia ini, serta memisahkan dan juga membedakannya. Bagaimana akhir dari perjalanan hidupnya ketika dia memilih jawaban yang keliru terhadap pertanyaan tadi? 

Jadi, Siapakah Anda ? Untuk menjawabnya dengan benar, kita ditemani dan dibimbing oleh seorang ulama aktifis, seorang mujaddid (pembaharu), seorang mujahid, seorang mursyid dan seorang imam dengan segala maknanya yang ada. Dia adalah Al-Imam As-Syahid Hasan Al-Banna rahimahullah (wafat 1949). Inilah jawaban yang diberikan beliau dalam salah satu artikelnya (Nazharat fit Tarbiyah was Suluk).

Siapakah Anda?

"Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (QS Al-Infithar:6-8)

Wahai manusia, siapakah Anda?
Pertama, Kami adalah orang-orang Mukmin yang membenarkan firman Allah Swt (Al-Mukminun Al-Mushaddiqun) yang menyatakan :

"Anda adalah makhluk rabbani, tiupan yang suci, ruh yang termasuk urusan Allah. Dia menciptakannya dengan tangan-Nya, Dia meniupkan ke dalam tubuhmu dari ruh ciptaan-Nya, yang mengutamakanmu atas kebanyakan makhluk-Nya, Dia memerintahkan malaikat untuk sujud kepadamu, yang mengajarimu semua nama, membebanimu dengan amanah yang engkau sanggupi, menganugrahkan nikmat kepadamu baik yang lahir maupun yang batin, yang menundukkan untukmu semua yang ada di langit dan di bumi, yang memuliakan kamu dengan pemuliaan atau penghormatan yang besar. Dia menciptakanmu dalam bentuk yang terbaik, melengkapimu dengan bekal paling sempurna, menganugrahimu pendengaran, penglihatan dan hati, menjelaskan kepadamu dua jalan, dan menunjukimu kepada dua arah, yang memudahkan jalan bagimu.

Engkau dengan izin-Nya dapat menyelam di air, terbang di udara, menemukan arus listrik, zat atom, dan menganugrahkan dengan pikiran dan kemampuanmu untuk mengarungi penjuru langit. Apakah engkau melihat  hal yang lebih agung, lebih besar, lebih suci dan lebih mulia?

Obatmu ada pada dirimu, namun engkau tidak melihatnya; Penyakit ada padamu, tapi engkau tidak merasakannya; Engkau mengira dirimu adalah materi kecil; Padahal padamu terdapat lipatan dunia yang besar.

Usai kehidupan yang amat pendek ini, Anda adalah makhluk abadi yang tidak hancur. Anda akan dihidupkan dan dibangkitkan. Anda akan memulai kehidupan mulia di negeri kenikmatan yang penuh kesenangan. Apabila Anda memahami rahasia tugas Anda di dunia, lalu Anda mengikhlaskan amal hanya untuk Raja yang berhak untuk disembah.

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan." (QS Adz-Dzariyat: 56-57)

Kematian yang Anda takutkan, hanyalah sebuah perpindahan dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui." (QS Al-Ankabut: 64)

Jasad ini hanyalah sebuah sangkar tempat Anda ditahan. Sebuah pakaian yang akan Anda lepas suatu ketika. Lalu Anda berjumpa dengan Hari Pembalasan. Semoga Allah Swt merahmati orang bijak yang bersenandung,

Aku adalah burung, dan ini sangkarku
Aku terbang dan ia kutinggalkan
Aku berada dalam pagar dan inilah jasadku
Ia hanyalah pakaianku untuk sementara waktu
Aku kini berkata kepada semua manusia, dan aku tahu Allah Maha Nampak di sini
Jangan Anda sangka kematian hanyalah kematian
Ia hanyalah perpindahan dari sini.

Kedua, Kaum materialis dan para pengingkar menyatakan, "Anda wahai manusia, adalah bagian dari tanah, cairan yang dipancarkan dari tulang punggung. Anda dilemparkan dari rahim dan hari-hari yang mematikan Anda. Tanah meleburkan Anda, setelah itu tidak ada suatu apa pun. "Lalu siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?"

Orang-orang sebelumnya juga menyatakan--sebagaimana direkam dalam Al-Quran,
"Kehidupan ini tak lain hanyalah kehidupan di dunia saja. Kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa." (QS Al-Jatsiyah: 24)

Ungkapan sama juga dinyatakan oleh para pengekornya di zaman ini, "Anda adalah hasil percampuran unsur materi, perkembangan psikologi, perasaan dan kalbu, pemikiran dan pemahaman, tekad dan kehendak. Semua itu adalah dampak materi belaka, hasil percampuran tanah dan air. Kehidupan ini hanyalah hari-hari yang terbilang untuk digunakan sepuas-puasnya guna mencapai kelezatan."

Kehidupan dunia ini hanyalah makanan, minuman dan impian. Apabila hal ini luput dari Anda, yang tersisa hanyalah ucapan selamat tinggal pada dunia.

Saudaraku, inilah persoalan kehidupan apabila Anda menajamkan pandangan, mencurahkan pemikiran. Hal ini tak akan bermanfaat bagi orang yang lalai dengan eksistensi mereka, meremehkan kemanusiaan mereka. Jika Ada mengetahuinya, Anda akan mampu menentukan tujuan dan sarana di dunia ini.

Akhirnya, ingin saya nasehatkan bagimu, "Hendaklah Anda menyendiri bersama jiwa Anda selama beberapa saat di waktu malam atau siang hari. Hal ini untuk melihat yang paling utama dari dua pendapat di atas sekaligus dampak strategisnya dalam kehidupan individu dan sosial, hingga Anda merasa puas dengan pendapat pertama yang sesuai dengan fithrah. Maka Anda akan menerima dengan jiwamu untuk menyempurnakan keutamaannya. Engkau akan menganggap remeh persoalan-persoalan yang rendah, dan tujuan yang kerdil. Anda akan menghubungkan fithrah dengan Tuhannya yang Maha Luhur lagi Maha Tinggi. Anda sucikan fitrah itu dengan berdzikir kepada-Nya, menaati, merasakan pengawasan-Nya dan merasa takut pada-Nya. "Orang yang mengenal dirinya (dengan benar), maka telah mengenal Tuhannya."

Mereka telah menyerahkan urusan padamu
Sekiranya Anda cerdik tentang itu
Jagalah diri agar Anda tidak menggembala bersama unta liar.

(Sumber: Risalah Tarbiyah Imam Hasan Al-Banna, Pentahqiq: Isham Tallimah)


































Jumat, 25 Mei 2012

Nafs dalam Al-Quran (3)

Pembahasan nafs dalam Al-Quran tidak menarik kalau tidak menyertakan kupasan dari salah satu pakar tafsir Indonesia, Dr. M. Quraish Shihab, M.A.  Dalam salah satu bukunya, yaitu Wawasan Al-Quran: Tafsir Mawdhu'i atas Pelbagai Permasalahan Umat, M. Quraish Shihab (1996: 285-288) menjelaskan bahasan tentang nafs sebagai bagian dari totalitas manusia. Kita perhatikan kupasannya sebagai berikut:

Kata nafs dalam Al-Quran mempunyai aneka makna, sekali diartikan sebagai totalitas manusia, seperti antara lain maksud surat Al-Maidah ayat 32, di kali lain ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku seperti maksud kandungan firman Allah. Innallaha la yughayyiru ma biqawmin hatta yughayyiru ma bin anfusihim, Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka (QS Ar-Ra'd[13]: 11)

Kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada "diri Tuhan" (kalau istilah ini dapat diterima), seperti dalam firman-Nya dalam surat Al-An'am[6]: 12: "Kataba 'ala nafsihir rahmata, Allah mewajibkan atas diri-Nya menganugerahkan rahmat."

Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan, dan karena itu, sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-Quran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar.

"Wa nafsiw wa ma sawwaha fa almaha fujuraha wa taqwa ha, Demi nafs serta penyempurnaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan." (QS As-Syams[91]: 7-8)

Mengilhamkan berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Di sini antara lain terlihat perbedaan pengertian kata ini menurut Al-Quran dengan terminologi kaum sufi, yang oleh Al-Qusyairi dalam risalahnya dinyatakan bahwa, "Nafs dalam pengertian kaum sufi adalah sesuatu yang melahirkan sifat tercela dan perilaku buruk." Pengertian kaum sufi ini sama dengan penjelasan Kamus Besar Bahasa Indonesia, yang antara lain, menjelaskan arti kata nafsu, sebagai "dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik". (mungkin ini juga disebut nafsu dalam pengertian pasar--seperti kata M. Dawam Rahardjo--pen.)

Walaupun Al-Quran menegaskan bahwa nafs berpotensi positif dan negatif, namun diperoleh pula isyarat bahwa pada hakikatnya potensi positif manusia lebih kuat dari potensi negatifnya, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebaikan. Karena itu manusia dituntut agar memelihara kesucian nafs, dan tidak mengotorinya, "Qad aflaha man zakka ha, wa qad kha ba man dassa ha, Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang menyucikannya dan merugilah orang-orang yang mengotorinya (QS As-Syams[91]: 91-92)

Bahwa kecenderungannya kepada kebaikan lebih kuat dipahami dari isyarat beberapa ayat, antara lain firman-Nya: La yukalliful llahu nafsan illa wus 'aha laha ma kasabat wa 'alaiha mak tasabat,  Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya, Nafs memperoleh ganjaran dari apa yang diusahakannya, dan memperoleh siksa dari apa yang diusahakannya. (QS Al-Baqarah[2]: 286).

Kata kasabat adalah patron yang digunakan bahasa Arab untuk menggambarkan pekerjaan yang dilakukan dengan mudah, sedangkan iktasabat adalah patron yang digunakan untuk menunjuk kepada hal-hal yang sulit lagi berat. ini --menurut pakar Al-Quran Muhammad Abduh--mengisyaratkan bahwa nafs pada hakikatnya lebih mudah melakukan hal-hal yang baik daripada melakukan kejahatan, dan pada gilirannya mengisyaratkan bahwa manusia pada dasarnya diciptakan Allah untuk melakukan kebaikan.(sedikit diringkas oleh penulis).

Al-Quran juga mengisyaratkan keanekaragaman nafs serta peringkat-peringkatnya, secara eksplisit disebutkan tentang an-nafs lawwamah, ammarah, dan muthmainnah. Di sisi lain ditemukan pula isyarat bahwa nafs merupakan wadah. Tempat menampung paling tidak gagasan dan kemauan. Suatu kaum tidak dapat berubah keadaan lahiriahnya, sebelum mereka mengubah lebih dulu apa yang ada dalam wadah nafs-nya. Yang ada di sini antara lain adalah gagasan dan kemauan atau tekad untuk berubah. Gagasan yang benar, yang disertai dengan kemauan satu kelompok masyarakat, dapat mengubah keadaan masyarakat itu. Tetapi gagasan saja tanpa kemauan, atau kemauan saja tanpa gagasan tidak akan menghasilkan perubahan.


Selasa, 22 Mei 2012

Struktur dan Unsur Kepribadian

Adalah Sigmund Freud (1856-1939), seorang ilmuwan Yahudi dan doktor ahli jiwa asal Austria membagi susunan pribadi manusia terdiri dari tiga unsur kepribadian, yaitu : Id, Ego dan SuperegoId berada di daerah bawah sadar manusia. Id adalah sumber segala naluri atau nafsu yang selalu bertujuan mengejar pemuasan jasmani dan kesenangan. Id tidak mengenal nilai terutama nilai moral (imoral). 

Ego adalah tempat segala daya yang datang dari Id maupun Superego dianalisa dan dipertimbangkan, kemudian dilaksanakan atau tidak dilaksanakan. Ego merupakan pengontrol keseimbangan pribadi seseorang. Dengan Ego seseorang sadar terhadap kemauan-kemauan Id dan kemauan-kemauan Superego. Sebagai pengantar Ego selalu memperhatikan dan memperhitungkan kenyataan dunia luar. Maka Ego berada di daerah kesadaran manusia. 

Superego adalah sumber segala nilai termasuk nilai moral.  Superego berada di daerah bawah sadar sebagai Id, tetapi ia kebalikan dari Id. Superego selalu menuju ke arah kesempurnaan rohani. Id bersifat ideal.

Menurut Freud, masing-masing unsur ini memiliki daya-daya pendorong yang disebut dengan "cathexis" (untuk Id), sedangkan untuk Ego dan Superego memiliki daya penahan yang disebut dengan "anti-cathexis", disamping tentunya cathexis. Daya-daya ini dapat disebut juga sebagai "kehendak". Kehendak inilah yang mula-mula menimbulkan kegoncangan dalam keseimbangan pribadi seseorang yang menjelma dalam bentuk pertentangan.

Dalam diri seseorang yang sehat jasmani dan rohaninya, ketiga unsur tadi bekerja secara harmonis. Apabila terjadi konflik akibat dorongan Id atau Superego, Ego akan mengatasinya. Tetapi bila Ego tidak mampu mengatasinya, maka keseimbangan diri seseorang akan terganggu dan akibatnya timbul gejala-gejala abnormal pada orang tersebut.

Secara lebih detail dapat dijelaskan sebagai berikut. Apabila ada suatu kehendak muncul dari pihak Id, maka akan datang penekanan dari pihak Ego dengan anti-cathexis. Anti-cathexis yang datang dari Ego ini akan menahan kehendak Id sementara. Selanjutnya ia memperhatikan dan mempertimbangkan kemungkinan dapat atau tidak dapat direalisasikannya kehendak Id tersebut di dunia luar.

Setelah itu ia memutuskan untuk melaksanakan atau menggagalkam kehendak Id tersebut setelah dipertimbangkan dan diperhatikannya. Bila cathexis Id terlau kuat dan Ego tidak mampu menahannya, maka yang lahir dari perbuatan seseorang adalah perbuatan impulsif (bertindak secara tiba-tiba menurut kehendak hati).

Dalam menahan kehendak Id, kadangkala Ego mendapat bantuan dari Superego. Sebaliknya apabila kehendak itu datang dari Superego, maka Ego akan menahannya dan mempertimbangkannya. Apabila Superego terlalu kuat dan ego tidak mampu menahannya, maka yang lahir dari perbuatan seseorang adalah perbuatan yang bersifat idealis. Kadang-kadang pula Id juga memperalat Superego dan mengalahkan Ego, sehingga lahir tindakan-tindakan yang ekstrim, seperti tindakan main hakim sendiri terhadap pelaku tindak kejahatan.

Uraian di atas adalah penyederhanaan proses perbuatan lahir manusia oleh sebab pengaruh ketiga unsur itu. Namun kenyataannya adalah tidak sesederhana itu, karena proses kerjasama timbal balik dari ketiga unsur itu begitu ruwet dan kompleks, sehingga sukar untuk menarik suatu pendapat bahw tindakan tertentu seseorang itu murni berasal dari salah satu unsur.

Inilah penjelasan panjang lebar, struktur kepribadian menurut Frued yang penulis kutip dari Ustadz Abdul Malik Imam Nashirin, dari Forum Pengkajian Ilmiah Santri "Al-Hambra", Pondok Modern Gontor. Dalam buku kecil yang berharga itu, ia membandingkannya dengan perspektif Imam Al-Ghazali. Bagaimana menurut Imam Al-Ghazali? dan Bagaimana dengan jiwa itu sendiri yang menjadi pembahasan kita di sini. Insya Allah berlanjut.


Nafs dalam Al-Quran (2)

Dalam Al-Quran, ada tiga macam nafsu yang jelas disebutkan jenisnya dan kemudian dikembangkan di kalangan sufi. Pertama, al-nafs al-ammarah (QS Yusuf [12]: 53); kedua, al-nafs al-lawwamah (QS. al-Qiyamah[75]:2); dan ketiga, al-nafs al-muthma'innah (QS.al-Fajr [89]: 27). Menurut Muhammad Ali, seorang penulis tafsir Al-Quran asal India/Pakistan--sebagai dikutip M.Dawam Rahardjo (1996: 265)-- bahwa ketiga nafsu ini menunjukkan tingkat-tingkat perkembangan jiwa manusia.

Jika demikian, kata Ahmad Farid (2002:89), sebenarnya jiwa manusia itu satu, yaitu ammarah, lalu lawwamah, kemudian muthma'innah. Dan muthma'innah ini adalah tujuan dari kesempurnaan dan kebaikan jiwa. 

Nafsu Ammarah (al-nafs al-ammarah) adalah jiwa yang tercela. Ia hanya menyuruh melakukan segala keburukan, bahkan ini sudah menjadi tabiatnya.Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatannya, kecuali jika ia mendapat taufiq dari Allah, sebagaimana Allah kisahkan tentang istri Al-Aziz dan Nabi Yusuf a.s. "Dan aku tidak membiarkan nafsuku, sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dirahmati Tuhanku, .." (QS. Yusuf[12]: 53) Pendamping dari nafsu ini adalah setan. Setanlah yang melindungi, menjanjikan, menanamkan angan-angan dan kebatilan, menyuruhnya untuk berbuat buruk dan menghiasinya, memanjangkan angan-angan, dan menampakkan kebatilah dalam bentuk yang dapat diterima dan indah.

Nafsu Lawwamah adalah jiwa yang tidak tetap pada satu kondisi. Jiwa yang berbolak balik dan berubah, kadang ingat kadang lalai, kadang patuh kadang berpaling, kadang cinta kadang benci, kadang senang kadang susah, kadang suka kadang marah, kadang taat kadang maksiat. Lawwamah ini ada dua macam.Lawwamah tercela dan tidak tercela.

Lawwamah yang tercela adalah jiwa yang bodoh lagi zalim yang dicela Allah dan malaiat-Nya. Lawwamah yang tidak tercela adalah yang selalu mencela pemiliknya--meskipun sudah berusaha--dianggap selalu kurang dalam mentaati Alah. Inilah mungkin yang diungkapkan oleh Imam Hasan Bashri rahimahullah sebagai jiwa orang yang beriman, dimana mereka tidak pernah Anda lihat kecuali  selalu instropeksi diri.  Ia selalu mengatakan, "Tidakkah kau menginginkan ini?", "Mengapa kau lakukan itu?", "Seharusnya ini lebih utama dibandingkan yang itu," dan seterusnya.

Sementara Nafsu Muthma'innah (al-nafs al-muthma'innah) adalah nafsu yang condong kepada Allah, merasa tentram dengan mengingat-Nya, kembali kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan merasa damai dengan dekat kepada-Nya. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa muthma'innah adalah yang membenarkan. Sementara Qatadah r.a. mengartikannya dengan mukmin yang jiwanya condong kepada apa yang Allah janjikan kepadanya.

Penjelasan lebih lengkap dari Nafsu Muthma'innah ini kita lihat dari penafsiran Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi (1993:273) dalam tafsirnya terhadap ayat 27 dari surat Al-Fajr. Beliau menerangkan sebagai berikut: "...Allah menjelaskan perihal manusia yang diberi kelapangan rezeki dan watak-wataknya sehingga ketamakan menguasai diri dan cenderung mengejar kepuasan nafsi syahwatnya serta keinginan-keinginannya dan segala tingkah lakunya lepas  dari kendali pikiran sehat. kemudian Allah menjelaskan akibat perbuatan mereka di akhirat. Pada ayat-ayat selanjutnya Allah menjelaskan perihal manusia yang tidak sudi mengikuti selera rendah semacam ini, sehingga ia menduduki martabat kesempurnaan. Manusia semacam ini--hatinya selalu tenang dan tentram. Sebab ia merasa bahwa perbuatannya berada dalam pengawasan Allah. Ia hanya menginginkan hal-hal yang bersifat ruhaniah, yang bisa mengisi jiwanya. Dan ia membenci kelezatan yang bersifat jasmaniah. Orang semacam ini jika diberi kekayaan, ia tidak mengambil selain haknya sendiri. Dan bila ditimpa kefakiran--ia bersabar dan tidak menadahkan tangan meminta bantuan kepada orang lain. ALlah menjelaskan bahwa orang semacam ini kelak berada di sisi-Nya--mendapat keridhaan atas amal perbuatan yang dilakukan di dunia. kemudian ALlah memasukkannya ke dalam golongan para shalihin di antara hamba-hamba-Nya." 

Al-Maraghi lebih lanjut menulis, "Ya ayyatuhan nafsul muthma'innah, wahai jiwa yang telah yakin kepada perkara hak (kebenaran) dan tidak ada lagi perasaan syak (ragu-ragu). Engkau telah berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan syariat, sehingga tidak mudah terombang-ambingkan oleh nafsu syahwat dan berbagai keinginan.

Inilah sebentuk kemuliaan jiwa yang merasa ridha dan diridhai dan mendapatkan pahala kenikmatan  yang mereka terima di sisi Rabbnya. Wallahu a'lam bis  shawab.