Selasa, 22 Mei 2012

Nafs dalam Al-Quran (2)

Dalam Al-Quran, ada tiga macam nafsu yang jelas disebutkan jenisnya dan kemudian dikembangkan di kalangan sufi. Pertama, al-nafs al-ammarah (QS Yusuf [12]: 53); kedua, al-nafs al-lawwamah (QS. al-Qiyamah[75]:2); dan ketiga, al-nafs al-muthma'innah (QS.al-Fajr [89]: 27). Menurut Muhammad Ali, seorang penulis tafsir Al-Quran asal India/Pakistan--sebagai dikutip M.Dawam Rahardjo (1996: 265)-- bahwa ketiga nafsu ini menunjukkan tingkat-tingkat perkembangan jiwa manusia.

Jika demikian, kata Ahmad Farid (2002:89), sebenarnya jiwa manusia itu satu, yaitu ammarah, lalu lawwamah, kemudian muthma'innah. Dan muthma'innah ini adalah tujuan dari kesempurnaan dan kebaikan jiwa. 

Nafsu Ammarah (al-nafs al-ammarah) adalah jiwa yang tercela. Ia hanya menyuruh melakukan segala keburukan, bahkan ini sudah menjadi tabiatnya.Tidak ada seorang pun yang selamat dari kejahatannya, kecuali jika ia mendapat taufiq dari Allah, sebagaimana Allah kisahkan tentang istri Al-Aziz dan Nabi Yusuf a.s. "Dan aku tidak membiarkan nafsuku, sesungguhnya nafsu itu benar-benar menyuruh kepada keburukan, kecuali orang yang dirahmati Tuhanku, .." (QS. Yusuf[12]: 53) Pendamping dari nafsu ini adalah setan. Setanlah yang melindungi, menjanjikan, menanamkan angan-angan dan kebatilan, menyuruhnya untuk berbuat buruk dan menghiasinya, memanjangkan angan-angan, dan menampakkan kebatilah dalam bentuk yang dapat diterima dan indah.

Nafsu Lawwamah adalah jiwa yang tidak tetap pada satu kondisi. Jiwa yang berbolak balik dan berubah, kadang ingat kadang lalai, kadang patuh kadang berpaling, kadang cinta kadang benci, kadang senang kadang susah, kadang suka kadang marah, kadang taat kadang maksiat. Lawwamah ini ada dua macam.Lawwamah tercela dan tidak tercela.

Lawwamah yang tercela adalah jiwa yang bodoh lagi zalim yang dicela Allah dan malaiat-Nya. Lawwamah yang tidak tercela adalah yang selalu mencela pemiliknya--meskipun sudah berusaha--dianggap selalu kurang dalam mentaati Alah. Inilah mungkin yang diungkapkan oleh Imam Hasan Bashri rahimahullah sebagai jiwa orang yang beriman, dimana mereka tidak pernah Anda lihat kecuali  selalu instropeksi diri.  Ia selalu mengatakan, "Tidakkah kau menginginkan ini?", "Mengapa kau lakukan itu?", "Seharusnya ini lebih utama dibandingkan yang itu," dan seterusnya.

Sementara Nafsu Muthma'innah (al-nafs al-muthma'innah) adalah nafsu yang condong kepada Allah, merasa tentram dengan mengingat-Nya, kembali kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, dan merasa damai dengan dekat kepada-Nya. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa muthma'innah adalah yang membenarkan. Sementara Qatadah r.a. mengartikannya dengan mukmin yang jiwanya condong kepada apa yang Allah janjikan kepadanya.

Penjelasan lebih lengkap dari Nafsu Muthma'innah ini kita lihat dari penafsiran Syaikh Ahmad Musthafa Al-Maraghi (1993:273) dalam tafsirnya terhadap ayat 27 dari surat Al-Fajr. Beliau menerangkan sebagai berikut: "...Allah menjelaskan perihal manusia yang diberi kelapangan rezeki dan watak-wataknya sehingga ketamakan menguasai diri dan cenderung mengejar kepuasan nafsi syahwatnya serta keinginan-keinginannya dan segala tingkah lakunya lepas  dari kendali pikiran sehat. kemudian Allah menjelaskan akibat perbuatan mereka di akhirat. Pada ayat-ayat selanjutnya Allah menjelaskan perihal manusia yang tidak sudi mengikuti selera rendah semacam ini, sehingga ia menduduki martabat kesempurnaan. Manusia semacam ini--hatinya selalu tenang dan tentram. Sebab ia merasa bahwa perbuatannya berada dalam pengawasan Allah. Ia hanya menginginkan hal-hal yang bersifat ruhaniah, yang bisa mengisi jiwanya. Dan ia membenci kelezatan yang bersifat jasmaniah. Orang semacam ini jika diberi kekayaan, ia tidak mengambil selain haknya sendiri. Dan bila ditimpa kefakiran--ia bersabar dan tidak menadahkan tangan meminta bantuan kepada orang lain. ALlah menjelaskan bahwa orang semacam ini kelak berada di sisi-Nya--mendapat keridhaan atas amal perbuatan yang dilakukan di dunia. kemudian ALlah memasukkannya ke dalam golongan para shalihin di antara hamba-hamba-Nya." 

Al-Maraghi lebih lanjut menulis, "Ya ayyatuhan nafsul muthma'innah, wahai jiwa yang telah yakin kepada perkara hak (kebenaran) dan tidak ada lagi perasaan syak (ragu-ragu). Engkau telah berpegang teguh kepada ketentuan-ketentuan syariat, sehingga tidak mudah terombang-ambingkan oleh nafsu syahwat dan berbagai keinginan.

Inilah sebentuk kemuliaan jiwa yang merasa ridha dan diridhai dan mendapatkan pahala kenikmatan  yang mereka terima di sisi Rabbnya. Wallahu a'lam bis  shawab.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar