Jiwa dalam bahasa Indonesia menjadi bahasa terjemahan dari kata "nafs" (Arb). Dalam bahasa Inggris, kata "nafs" diterjemahkan menjadi beberapa kata yakni: soul (jiwa), person (pribadi), self atau selves (diri), life (hidup), heart (hati) dan mind (pikiran). Dalam bahasa Indonesia, menurut M. Dawam Rahardjo (1996: 247-250), kata ini memiliki dua makna. Pertama, berkesan netral di mana kata nafs lebih tepat diartikan dengan pribadi atau diri. Kedua, berubah jadi nafsu yang bersifat pejoratif, yang memiliki kesan negatif karena berkonotasi seksual.
Menarik tulisan M. Lili Nur Aulia (2005: 9-10) dalam bukunya "Meraih Kekuatan dari Yang Maha Kuat" dalam kajian As-Saytharah 'alan Nafs (Kendali terhadap Jiwa). Penulis kutipkan di sini sebagai berikut.
"Jiwa adalah kekuatan hidup dan unsur utama kehidupan kita, karena setiap makhluk hidup mempunyai jiwa. Meski jiwa itu tidak terlihat, tetapi eksistensi jiwa yang hidup pasti bisa dirasakan. Saat kita kita menggerutu, sebenarnya itu adalah ekspresi sinyal bahwa suasana hati dan jiwa kita dalam keadaan tidak senang. Ketika kita tersenyum bahagia, itu adalah petunjuk jiwa kita sedang gembira. Jiwa yang tidak terlihat itu, eksistensinya muncul ke permukaan."
"Terkadang, nafsu bergolak dan mendorong kita untuk melanggar jalan yang telah ditentukan Allah Swt, lalu membawa kita untuk mengeluarkan kata-kata dan sikap yang tidak pantas. Jika keadaan jiwa seperti itu yang kita rasakan, kuasailah jiwa kita. Kendalikan jiwa kita agar tidak terperosok untuk melanggar batas dan terjerumus kepada dosa dan kemaksiatan. Allah Swt berfirman:
"Sesungguhnya jiwa itu pasti memerintahkan pada keburukan, kecuali apa yang dirahmati oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku adalah Maha Pengampun dan Maha Rahim." (QS Yusuf: 53)
"Jiwa (an-Nafs) adalah musuh manusia yang paling besar setelah setan. Akan tetapi manusia yang kuat, mampu membersihkan dan mendidik jiwamua hingga mampu merubah jiwanya dari memerintah pada keburukan, pada kondisi menyesali keburukan lalu pada kondisi yang muthma'innah (tenang). keadaan itu tidak terjadi kecuali melalui pembinaan dan kesungguhan (mujahadah), kesabaran (shabr) dan melipatgandakan kesabaran (mushabarah), serta proses yang lama dan panjang. Tidak ada yang bisa menanggung beban perjalanan panjang itu kecuali orang-orang yang kuat."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar