Judul ini merupakan terjemahan dari buku karya Herbert Marcuse, seorang filsuf besar abad ke-20 yang pada 1955 menulis karya pemikirannya yang berjudul "Eros and Civilization". Sebagian tulisan ini diambil dari Ensiklopedi Al-Quran karya M. Dawan Rahardjo (1996: 247-248). Buku ini berisi pembahasan filosofis tentang kebudayaan atau peradaban Barat, berdasarkan teori libido sexualis Sigmund Freud.
Teori psikoanalisa Freud, yang dinilai setaraf dengan penemuan Adam Smith tentang mekanisme pasar atau Karl Marx tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat yang didorong oleh perubahan dalam hubungan atau sistem produksi itu, telah berkembang sedemikian rupa, sehingga dijadikan dasar bagi analisis pertumbuhan peradaban Barat. Menurut Marcuse, teori Freud yang mengatakan bahwa peradaban Barat adalah hasil penaklukan atau represi terhadap naluri-naluri manusiawi itu pada dasarnya telah diterima umum sebagai kebenaran, walaupun kini direvisi dan dikembangkan lebih lanjut.
Dalam teorinya, Freud mengatakan bahwa manusia pada dasarnya dikendalikan oleh naluri-nalurinya yang bertujuan untuk mencari kepuasan. Apabila naluri-naluri itu tidak dikendalikan, maka dampaknya akan bersifat anti sosial dan menimbulkan barbarisme dan anarki. Tetapi manusia tidak bisa sepenuhnya menindas keinginan dan hasratnya terhadap kesenangan tersebut. Di sini manusia dihadapkan pada pilihan antara hasrat (reality principle) untuk memenuhi kesenangan (pleasure principle) dan kenyataan bahwa tanpa pengendalian, maka nafsu manusia itu akan bersifat destruktif. Ini adalah suatu ketegangan abadi. Tetapi bagi Freud, peradaban hanya akan berkembang apabila prinsip realitas dapat mengalahkan prinsip kesenangan. Dengan perkataan lain orang-orang dalam masyarakat harus bisa menahan dan mengendalikan diri. Inilah fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia.
Kritik Marcuse terhadap Freud, ia terlalu mementingkan prinsip realitas. Dengan menekankan realitas itu (peradaban Barat modern yang kapitalis, umpamanya, telah menimbulkan kultus terhadap nilai produktivitas dan rasionalitas teknologis) represi terhadap naluri manusiawi telah menimbulkan situasi yang kurang manusiawi dalam masyarakat industri modern... Dalam pemikiran Marcuse, nafsu manusia berperanan sebagai pendorong peradaban. Berbeda dengan teori Freud, nafsu ini justru ditampilkan secara lebih positif.
Jadi, dalam tulisan ini nafsu adalah salah satu faktor yang mendorong perubahan dan kemajuan. Tetapi nafsu juga mengandung resiko. Karena itu perlu "diwaspadai".
Teori psikoanalisa Freud, yang dinilai setaraf dengan penemuan Adam Smith tentang mekanisme pasar atau Karl Marx tentang hukum-hukum perkembangan masyarakat yang didorong oleh perubahan dalam hubungan atau sistem produksi itu, telah berkembang sedemikian rupa, sehingga dijadikan dasar bagi analisis pertumbuhan peradaban Barat. Menurut Marcuse, teori Freud yang mengatakan bahwa peradaban Barat adalah hasil penaklukan atau represi terhadap naluri-naluri manusiawi itu pada dasarnya telah diterima umum sebagai kebenaran, walaupun kini direvisi dan dikembangkan lebih lanjut.
Dalam teorinya, Freud mengatakan bahwa manusia pada dasarnya dikendalikan oleh naluri-nalurinya yang bertujuan untuk mencari kepuasan. Apabila naluri-naluri itu tidak dikendalikan, maka dampaknya akan bersifat anti sosial dan menimbulkan barbarisme dan anarki. Tetapi manusia tidak bisa sepenuhnya menindas keinginan dan hasratnya terhadap kesenangan tersebut. Di sini manusia dihadapkan pada pilihan antara hasrat (reality principle) untuk memenuhi kesenangan (pleasure principle) dan kenyataan bahwa tanpa pengendalian, maka nafsu manusia itu akan bersifat destruktif. Ini adalah suatu ketegangan abadi. Tetapi bagi Freud, peradaban hanya akan berkembang apabila prinsip realitas dapat mengalahkan prinsip kesenangan. Dengan perkataan lain orang-orang dalam masyarakat harus bisa menahan dan mengendalikan diri. Inilah fungsi kebudayaan dalam kehidupan manusia.
Kritik Marcuse terhadap Freud, ia terlalu mementingkan prinsip realitas. Dengan menekankan realitas itu (peradaban Barat modern yang kapitalis, umpamanya, telah menimbulkan kultus terhadap nilai produktivitas dan rasionalitas teknologis) represi terhadap naluri manusiawi telah menimbulkan situasi yang kurang manusiawi dalam masyarakat industri modern... Dalam pemikiran Marcuse, nafsu manusia berperanan sebagai pendorong peradaban. Berbeda dengan teori Freud, nafsu ini justru ditampilkan secara lebih positif.
Jadi, dalam tulisan ini nafsu adalah salah satu faktor yang mendorong perubahan dan kemajuan. Tetapi nafsu juga mengandung resiko. Karena itu perlu "diwaspadai".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar