Potensi Positif Negatif Jiwa
Manusia sebagaimana dijelaskan pada artikel sebelumnya memiliki dua macam potensi. Potensi positif dan negatif. Apa saja potensi positif dan negatif jiwa manusia itu? Mengenai potensi positif, Afif Muhammad dalam Pelangi Islam (Bandung, Khazanah Intelektual, 2005: 59-62) relatif memberikan contoh yang lebih banyak dibanding penulis lainnya. Potensi positif manusia itu adalah:
- Manusia mempunyai fitrah beragama (QS Ar-Rum:30)
- Manusia mempunyai kemampuan untuk memahami hukum kausalitas
- Kemampuan menguasai ilmu pengetahuan (QS Al-Baqarah:31)
- Mampu menyusun argumen secara logis (QS Al-Baqarah: 65-68)
- Mampu mengambil pelajaran dari pengalaman (QS Al-Araf: 164-169)
- Mampu berpikir kritis terhadap gagasan yang disampaikan orang lain yang tidak mempunyai pijakan kebenaran (QS Al-Maidah: 103)
- Kemampuan menguasai informasi (QS Ar-Rahman: 4)
- Sifat tergesa-gesa (QS Bani Israil: 11)
- Bertindak bodoh dan mempersulit diri (QS Al-Ahzab: 72)
- Labil dan tidak bertahan (QS Al-Ma'arij: 19)
- Keluh kesah (QS Al-Ma'arif: 20)
- Kikir terhadap miliknya dan cenderung kurang bersyukur (QS Al-Ma'arij: 21)
- Suka berdebat dan membangkang (QS Al-Kahfi: 54)
- Mudah melupakan jasa baik pihak lain (QS Yunus: 12)
- Sulit berterima kasih secara tulus (QS Al-Adiyat: 6)
- Bertindak melampaui batas (QS Al-Alaq: 6)
- Mudah putus asa dan cenderung menutup diri (QS Hud: 9)
- Senang kepada harta (QS At-Takatsur: 1-2)
- Takut pada ancaman dan kematian (QS An-Nisa: 78)
Jika melihat kedua macam potensi ini, nampak potensi negatif lebih banyak dibandingkan dengan potensi positif. Mengapa demikian? Apakah potensi-potensi positif manusia belum terungkap semuanya ataukah memang kecenderungan negatif manusia lebih besar dibandingkan dengan potensi positifnya? Pertanyaan2 ini jawaban tidak mudah, karena membutuhkan penelusuran lebih jauh terhadap Al-Quran, sebagai kitab suci ALlah yang membicarakan manusia. Tapi (mengambil simpulan cepatnya) jika potensi negatif lebih banyak, berarti usaha-usaha untuk menahan, menekan, menjinakkan potensi negatif butuh usaha ekstra.
Solusi apa yang ditawarkan Al-Quran, dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi-potensi negatif yang banyak ini? Selain Al-Quran dan As-Sunnah, sumber apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif manusia?
Berkaitan dengan solusi Al-Quran dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi negatif ini membutuhkan kolom tersendiri, tapi untuk yang kedua, sumber lain apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif ini, maka kita dapat menyebutkan sebagai berikut.
Selain Al-Quran dan As-Sunnah, terdapat beberapa sumber yang bisa dimanfaatkan untuk menterapi jiwa negatif. Pertama adalah mereka yang berinteraksi secara langsung dengan kedua sumber tersebut, yaitu para shahabat Nabi dan masyarakat dimana Al-Quran pertama kali turun kepada mereka, hidup bersama mereka, dan memberikan terapi-terapinya melalui lisan Nabi Muhammad Saw dan perbuatan yang beliau lakukan. Ucapan-ucapan dan perbuatan sahabat nabi ini memberikan contoh teladan bagaimana mereka membersihkan jiwanya ketika potensi negatif itu menimpa mereka.
Kedua. Mereka yang berinteraksi dengan kehidupan manusia dengan segala pengalaman yang dibawanya. Pengalaman manusia sejak manusia diciptakan sampai sekarang sebenarnya memberikan pengetahuan berharga bagaimana jiwa-jiwa itu berinteraksi dan memberi pengaruh, positif maupun negatif. Semua peradaban tidak hanya Islam memberikan pengalaman dan pengetahuannya dalam terapi-terapi kejiwaan.
Ketiga. Ilmu pengetahuan modern.
Solusi apa yang ditawarkan Al-Quran, dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi-potensi negatif yang banyak ini? Selain Al-Quran dan As-Sunnah, sumber apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif manusia?
Berkaitan dengan solusi Al-Quran dan As-Sunnah dalam mengatasi potensi negatif ini membutuhkan kolom tersendiri, tapi untuk yang kedua, sumber lain apakah yang bisa digunakan untuk menterapi jiwa negatif ini, maka kita dapat menyebutkan sebagai berikut.
Selain Al-Quran dan As-Sunnah, terdapat beberapa sumber yang bisa dimanfaatkan untuk menterapi jiwa negatif. Pertama adalah mereka yang berinteraksi secara langsung dengan kedua sumber tersebut, yaitu para shahabat Nabi dan masyarakat dimana Al-Quran pertama kali turun kepada mereka, hidup bersama mereka, dan memberikan terapi-terapinya melalui lisan Nabi Muhammad Saw dan perbuatan yang beliau lakukan. Ucapan-ucapan dan perbuatan sahabat nabi ini memberikan contoh teladan bagaimana mereka membersihkan jiwanya ketika potensi negatif itu menimpa mereka.
Kedua. Mereka yang berinteraksi dengan kehidupan manusia dengan segala pengalaman yang dibawanya. Pengalaman manusia sejak manusia diciptakan sampai sekarang sebenarnya memberikan pengetahuan berharga bagaimana jiwa-jiwa itu berinteraksi dan memberi pengaruh, positif maupun negatif. Semua peradaban tidak hanya Islam memberikan pengalaman dan pengetahuannya dalam terapi-terapi kejiwaan.
Ketiga. Ilmu pengetahuan modern.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar